BALIKPAPAN--Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPKP) kembali mengembangan komoditi perkebunan karet di Balikpapan. Hal tersebut diupayakan melalui perluasan kebun karet yang sebagian besar berada di kawasan Balikpapan Utara dan Balikpapan Timur yang dianggap memiliki lahan produktif.
“Tahun ini kita terus berupaya mengembangkan komoditi karet, rencanya kita akan lakukan perluasan lahan penanaman karet sampai dengan 150 hektare untuk tahun ini,” ujar Kepala DPKP Balikpapan, Drs H Chaidar Chairulsyah. Menurut Chaidar, berlanjutnya pengembangan karet tersebut menggunakan sumber dana murni dari APBD Balikpapan.
Pengembangan dilakukan di kawasan Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur serta Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara. Sebab, kawasan tersebut saat ini sudah dimanfaatkan masyarakat setempat untuk perkebunan karet. Sehingga, pihaknya tinggal mendukung masyarakat melalui peningkatan tegakan pohon karet. “Pengembangan ini dialokasikan dari APBD kota sekitar 150 hektare, untuk wilayah timur dan utara.
Karena di sana sudah ada pemanfaatkan oleh masyarakat setempat, tinggal diperluas saja,” terang Chaidar kepada Post Metro di balikota, baru-baru ini. Disinggung mengenai dekatnya jarak perkebunan karet dengan dua hutan lindung, yaitu Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan DAS Manggar, Chaidar menjelaskan, usaha pengembangan dilakukan pada lahan yang dianggap kritis.
Selain itu, pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan Badan Pengelola (BP) HLSW guna mendapatkan rekomendasi lahan mana saja yang sekiranya tepat ditanami karet dan tidak menganggu hutan lindung maupun air baku aliran sungai. “Tidak ada masalah dengan hutan lindung, sepanjang lahan itu ada pemanfaatan masyarakat dan lahan itu kritis.
Usulan dari BP HLSW terkait lahan mana saja yang akan dimanfaatkan juga kita akomodir,” terangnya. Dalam proyek pengembangan tersebut, lanjut Chaidar, pihaknya akan bekerjasama dengan warga lokal setempat yang mempunyai lahan. Selanjutnya bantuan berupa bibit, pupuk, hingga obat-obatan pembasmi hama diberikan kepada para petani dengan anggaran Rp 6 juta per hektare lahan yang digarap petani.
Terkait dengan pemasaran produksi petani karet ini, pihaknya mengakui saat ini produksi petani baru memiliki pasaran di Banjarmasin. “Sementara ini pasarnya tidak di Balikpapan, tapi luar daerah seperti Banjarmasin. Tapi perkembangannya sudah sangat bagus, sementara ini sudah ada sekitar 1.250 hektare kebun karet dan dalam RPJM 2011 kita targetkan mencapai 5.000 haktare,” ungkapnya.
Masih menurut Chaidar, dengan mengembangkan perkebunan karet ini, juga dapat meningkatkan kesejahteraan warga, termasuk masyarakat yang tergolong keluarga gakin (gakin). “Bahkan dari 150 KK bahkan lebih dengan status sebagai warga miskin, dapat terlepaskan dari status gakin karena mampu mengembangkan kebun karet. Ini yang ingin kita upayakan terus berkembang,” tutur Chaidar.(die)