BONGKAR KUBURAN: Setelah dikafani, dua jenazah bayi dimasukkan ke kotak, kemudian dimakamkan kembali di kuburan Gunung Guntur. (foto:bara aji/post metro)
BALIKPAPAN – Kasiadi (50) duduk jongkok di atas pusara tua yang terletak di antara puing-puing bangunan eks RSUD atau Puskib yang dibongkar habis Rabu (28/7) lalu. Letaknya di bagian belakang areal Puskib. Sekali-sekali tangan Kasiadi mengelus dua kayu balok ulin ukuran 8 x 8 cm yang menancap kuat di tanah. Kayu tersebut hitam legam menandakan kuburan berumur belasan tahun.
Ustad yang tinggal di gunung Guntur itu mulutnya komat-kamit memanjatkan doa-doa sambil tangannya mencabuti rumput-rumput liar. Suara raungan dua excavator dan truk-truk fuso yang mengangkut material bangunan tak dihiraukan Kasiadi. Pria tersebut membongkar kuburan bayi yang berada di areal tanah Puskib, Jumat (30/7) siang kemarin. Pembongkaran dibantu dua orang, berlangsung usai salat Jumat, pukul 13.15 Wita sampai pukul 13.45 Wita.
Sekitar 15 orang berkumpul menyaksikan pembongkaran, diantaranya Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Kelurahan Mekar Sari, Muji. Kasiadi adalah orang yang mengubur dua bayi tersebut. “Bayi ini saya yang menguburkan. Sekitar 13 tahun yang lalu, saya tidak ingat persis bulannya,” kata Kasiadi saat memulai pembongkaran. Ketika mengubur bayi, Kasiadi sebagai Ketua Yayasan Puskib.
Pembongkaran dilakukan dengan dicangkul pelan-pelan, sesekali digali dengan tangan khawatir jasad bayi tercangkul. Ketika kedalaman 2 meter, terlihat kain lusuh, setelah dibuka ternyata isinya 2 jasad bayi. Menariknya, dua jasad bayi masih utuh. Meski di atas ada dua pusara, ternyata dua bayi dikafani jadi satu. Salah satu jasad bayi tidak ada kepalanya.
Sontak warga mengucapkan takbir: “Allahu Akbar”. “Inilah kebesaran Allah, bayi tersebut masih utuh karena belum ada dosanya. Kasihan jenazah kedua bayi itu harus dikubur di areal penggusuran di Puskib,” imbuh beberapa warga.
Ditanya dua orangtua si bayi, Kasiadi tidak tahu persis. Yang dia tahu, dua bayi tersebut anak orang miskin yang lahir prematur. Namun dari cerita beberapa warga, satu jasad bayi tanpa kepala adalah bayi hasil aborsi.
Tentang pemakaman, Kasiadi punya cerita menarik. Saat itu, Kasiadi menerima dua mayat bayi yang baru lahir dari perawat. Dua jenazah bayi itu dibungkus kain kasa. Karena kondisinya darurat (emergency,) Kasiadi membungkus lagi dengan kain surban yang dia pakai, kemudian dia kuburkan. Sebagai penanda, Kasiadi menancapkan empat kayu ulin sepanjang sekitar 40 Cm untuk menandai bahwa di situ ada dua kuburan bayi.
“Saya ingat, dua bayi ini dikubur hari Jumat, sekarang dibongkarnya hari Jumat juga. Saya sengaja membongkar hari Jumat karena untuk mengembalikan penguburannya sesuai saat dikubur hari Jumat ,” kata Kasiadi.
Setelah dibongkar, kain kafan yang sudah rusak dibuka, kemudian dikafani lagi dengan kain kafan yang baru. Diiringi bacaan takbir, jasad bayi tersebut dimasukkan dalam kotak bercat hijau yang mirip kotak amal. Selanjutnya jasad dibawa naik motor dan dikuburkan kembali di kuburan Muslimin Gunung Guntur.
Mengapa kuburan harus dibongkar? Pembongkaran tersebut merupakan usulan warga yang disampaikan kepada Lurah Mekar Sari, Edy Gunawan SH. Alasan warga, kalau tidak dipindah rohnya akan mengganggu warga sekitar. (mm-3).